100 %



Foto Liburan Semester Lalu.

  Disaat pertanyaan datang, “Bagaimana presentase membagi antara waktu kuliah dan berorganisasi(non-akademis)?”, dia menjawab, “Saat orang lain berpikir bahwa mereka membagi 50% untuk kuliah dan 50% untuk berorganisasi, saya tidak seperti itu. bagi saya, saya harus 100% saat menjalankan hal-hal tersebut.”

     Mungkin tidak sama persis, namun intinya seperti itu yang diucapkan oleh kang Ujang Purnama dalam salah satu wawancara yang  sekarang saya coba cari sumbernya tapi tidak ketemu. Pertama kali aku tahu namanya, tatkala aku baru tahu apa itu Ganesha Prize. Kang Ujang adalah penerima gelar Ganesha Prize  2015, bisa dibilang itu adalah penghargaan bergengsi yang ada di ITB.

     Sangat termotivasi, saat aku membaca wawancara tersebut tahun lalu. Namun, sekarang aku sadar bahwa menerapkannya jauh lebih butuh ekstra usaha. Tak terasa, sunnguh, semester tiga telah usai. Sambil mengisi waktu menunggu waktu keberangkatan kereta besok siang, ya aku tulis ini. Satu hal kesimpulan dari semester tiga yaitu grafik menurun. Sistem 100% belum bisa diterapkan oleh diriku. Namun, banyak hal yang bisa dipelajari di semester ini. Tugas lebih banyak, laporan praktikum lebih banyak, baru mengenal organisasi, memimpin sebuah kepanitiaan, membimbing mahasiswa baru,  project dari kating, sampai  jatuh cinta(?), ada di semester tiga. Aku masih berada di gerbang. Welcome to Geodesy.


Selamat liburan!

Beberapa Ratus Meter dari Undip



Salam dari Mawar.
  
    Gerimis manja menyelimuti sore ini, sejuknya udara semakin mendukung tubuh ini untuk segera telentang dikamar kos tercinta. Ditambah lagi tenaga telah terkuras oleh kegiatan hari ini yang entah kenapa terasa sangat melelahkan. Aku membuka pintu kamar kosku dan berharap bisa langsung tidur nyenyak, namun ada satu hal yang masih terpikirkan oleh diri ini. “Aduh, ada rihlah rohis jurusan ya”, ternyata masih ada satu agenda lagi yang mengharuskan diriku tidak bisa tidur di kos malam ini. Acara yang mana diadakan di Camp Mawar, Gunung Ungaran , ini sempat membuatku putus semangat untuk bisa menghadirinya, “Yah, langsung tidur aja kayanya ini nanti habis Isya. Toh ada alasan juga karena capek seharian gini belum istirahat”. Tak lama setelah aku mandi, Adzan maghrib berkumandang. Panggilan yang sangat penting dihadiri lebih dari apapun.

    Aku bersiap ke masjid, dan dengan tenaga yang tersisa aku memenuhi panggilan Allah tersebut. Setibanya di masjid dan sampai selesai shalat, aku melihat salah satu temanku yang juga seharusnya ikut ke agenda rihlah, Wahyudi. Wahyudi terlihat telah siap untuk berangkat, terlihat dari daypack yang ia bawa.

“yud, mau berangkat rihlah?” sapaku.

“iya der, mau bareng?” balasnya.

    Kenapa harus bertemu dengan orang ini disaat seperti ini, mau tak mau aku harus menerima tawarannya untuk berangkat bersama.  Si panjul emang ye.

“oke, aku balik kos sebentar siap-siap ya”.

    Setelah siap, aku dan Wahyudi langsung menuju salah satu swalayan tempat meeting point dengan teman lainnya. Setelah kami berkumpul, yang kami sadari adalah sekarang telah memasuki waktu Shalat Isya. Muncul pertanyaan yang mungkin sudah bisa ditebak, “solat dimana nih?”. Pertanyaan tersebut memancingku untuk menjawab, “di Ngesrep aja, deket kosku yang dulu”. jawabanku tersebut barangkali terlihat tidak berdasar, namun dari lubuk hati yang paling dalam ada maksud terselubung. Aku rindu tempat itu. Kami berempat berangkat, dan sesaat ingin sampai masjid tujuan, aku mendengar suara yang tak asing bagi telingaku.

“Nah ini yud, asli ya! Kangen banget aku sama suara adzan bapaknya ini”, Refleks mulutku berkata demikian setelah mendengar adzan yang kurindukan.

    Bukan hanya suaranya yang aku rindukan dari tempat ini, tapi segalanya. Padahal baru hampir satu semester aku pindah kos ke dekat kampus. Singkatnya, setelah wudhu aku menjadi orang kedua yang masuk ke masjid tersebut di waktu isya ini setelah bapak yang mengumandangkan adzan tersebut. Kubuka pintu Masjid Al-Kautsar Ngesrep ini, yang mana langsung membuat hidungku mencium wangi khas masjid yang belum berubah sama sekali. Aroma memanggil kenangan.

“Assalamu’alaikum pak”, salam pertamaku mengawali pembicaraan kami setelah beliau mematikan pengeras suara yang digunakannya untuk adzan barusan.

“Wa’alaikumsalam, monggo monggo”, jawabnya yang masih belum mengenali wajahku.

“Masih ingat saya pak?”, tanyaku dengan nada sedikit sok asik.

“Siapa ya mas?”, jawabnya dengan pertanyaan balik kepadaku.

“Ini Dery pak”, jawabku dengan harapan bapak ini masih ingat denganku.

“Oh, Dery. Lagi ada apa kesini?”, jawabnya yang masih dibubuhi pertanyaan.

“Ini lagi main aja pak, mau ke Ungaran ada acara dari kampus. Sekalian mampir”, Jawabku yang masih ragu apakah bapak ini masih benar-benar mengingatku.

“Oh ada acara apa? Berkaitan dengan geodesi?”, jawabannya yang satu ini meyakinkanku bahwa beliau masih ingat denganku.

“enggak pak ini cuma acara main aja pak”

“Oh ta kira ada acara apa gitu mas”, jawaban yang secara tak langsung mengakhiri pembicaraan kami sebelum kita sama-sama shalat sunnah.
Mereka sadar kamera, Ini Masjid Al Kautsar.


    Sekilas tentang beliau yang mana selalu lebih sering mendahuluiku untuk datang ke masjid selama aku masih ngekos di Ngesrep. Beliau juga pernah cerita kalau ternyata beliau adalah alumni Teknik Sipil Undip  tahun 1978, kalau tidak salah ya. Bukan hanya beliau, melainkan juga beberapa bapak sepuh tetangga beliau juga merupaka alumni Teknik Sipil Undip, termasuk salah satu imam tetap masjid ini, Pak Munawir. Waktu awal aku masih bersama ayahku disini, ayahku sering ngobrol dengan Pak Munawir. Sampai pada pertanyaan yang diajukan oleh ayahku waktuitu kepadaku,

 “Ri, menurut kamu itu bapak yang jadi Imam umurnya berapa?”, tanya ayahku dalam suatu obrolan yang aku sudah lupa kapan waktu tepatnya.

“berapa ya, ….,” aku lupa berapa jawabanku saat itu.

“Bapak itu umurnya 78 ri, tapi hafalannya masih kuat ya”, jawab ayahku. 

    Terdapat keraguan berapa umur Pak Munawir dalam tulisanku ini, yang aku ingat antara 76 atau 78 umur beliau saat itu. yang mana sekaligus membuatku yang di cap sebagai pemuda agen perubahan ini sedikit malu.

    Berbicara soal, tempat, wangi, dan suasana malam itu, yang mana tanpa sadar ternyata memancing diriku untuk mengakui bahwa “betapa rindunya aku dengan suasana disini”. Rindu pun memicu kekhusyukan dalam shalat. Membangkitkan jiwa yang telah lama tertunduk dengan agenda rapat dan program kerja. beginilah takdir, boleh jadi kita benci untuk melakukan sesuatu tapi ternyata apa yang dilakukan adalah salah satu obat mujarab penghilang kelelahan. Masih kuingat beberapa menit lalu kalau aku tidak berangkat dan lebih memilih tidur, mungkin tidak lahir tulisan ini. ☺


    Singkat cerita aku menjalankan agenda dengan penuh suka cita dan kenyang senang, serta selamat kembali sampai kosku lagi. Kuliah lagi. Rapat lagi. Proker lagi. Jangan lupa ngaji. Semangat!
Bonus, Foto mas-mas masak mie.

Telfon Ajaib



“Aku keatas dulu ya mau telfon sebentar”, kataku kepada temanku yang jogging bersamaku sore itu.

     Aku menaiki entah berapa anak tangga, dan aku sampai di tribun stadion. Aku colok Headset di smartphone-ku, lalu aku pasang speaker headset-nya di telingaku. Aku menekan 021, kode daerah Jakarta dan sekitarnya lalu diikuti dengan nomor telfon warungku karena aku kira sore itu warung belum tutup. Setelah aku tunggu bunyi ‘tuutt’ beberapa kali, ternyata tidak ada yang mengangkat telfonku. Dengan penuh kepastian aku mengganti nomor yang aku telfon menjadi nomor telfon rumahku. Hanya menunggu sebentar lalu tersambung, kami sama-sama memberi salam “Assalamu’alaikum”, dan kami juga menjawab salam “Wa’alaikumussalam Warahmatullah”. Setelah itu orang tercinta yang mengangkat telfonku berkata, “Ada apa sayang? Mamah telfon balik atau gimana?”.”Iya mah, telfon balik ya”, kataku yang sebelum menelfon sempat cek pulsa yang hanya tersisa dua ribu rupiah-an. Sekitar tiga menit, ya menurutku sedikit lama memandangi layar smartphone menunggu telfon. Tiba-tiba telfon masuk, langsung ku angkat. Seperti biasa, tanya jawab.

“Lagi dimana ri? Kok suaranya rame?”.

“Iya mah, ini abis lari di stadion”.

“Loh lagi ngga di kosan? Udah mau magrib”.

“Iya dikit lagi pulang mah. ini sekarang kosanku deket mana-mana mah, deket kampus(Lumayansih), deket stadion, deket tempat ngaji juga”.

“Oh iya ri gimana kabarnya?”

     Lalu aku mulai cerita tentang UTS, yang mana baru besok akan benar-benar menghadapi UTS yang sesungguhnya(Baca : Besok Hiper). Beliau cerita seperti biasa, cerita warung, dan selalu di akhiri dengan “Alhamdulillah ri”. Sampai akhirnya Mamah cerita tentang Deniv.

“Ini lho ri, adikmu susah banget bangun subuh sekarang”.

“Oh iya, anaknya mana mah?”

“Ini ada, baru pulang ngaji. Suruh solat subuh coba ri”.

     Kali ini berbeda, kata perintah “Suruh solat subuh coba ri”. Tidak langsung aku laksanakan. Mengingat aku lagi dodol-dodolnya belakangan ini. Bagaimana bisa aku nyuruh solat tapi dua tiga hari terakhir subuhku juga kesiangan. Entah kenapa pada saat itu juga teringat kisah  Umar bin Khathtab Radhiallahu’anhu saat diminta menjelaskan besarnya pahala membebaskan budak, sementara saat itu beliau Radhiallahu’anhu masih memiliki budak. Beliau tidak berkata kecuali setelah beliau pulang dan membebaskan semua budaknya. Meskipun begitu, aku tetap berkata kepada adikku saat itu “Solat lu nip, kata mamah lu susah dibangunin ya”. Seperti biasa, dia hanya menjawab iya. Singkat cerita, telfon berakhir.


     Kadang memang aku bingung, saat sedang penat di perantauan harus berbuat apa. Namun sekarang, mungkin sudah mulai tercerahkan. Alhamdulillah. Sederhana, mungkin hanya sekedar menelfon rumah dan memberikan sepenuhnya perhatian pada suara yang berada di telfon. Mumpung masih bisa telfonan, kalo kata si ‘Pakde’,Hal-hal sederhana yang nampaknya remeh, tapi akan sangat bermakna ketika sudah tak bisa lagi dilakukan”.