Membuktikan Sebuah Pernyataan

      
Stadion Undip.
     Tak terasa sudah kembali lagi ke kota lumpia, setelah sebulan pas berlibur di Jakarta. Tentunya setiap liburan memiliki kisah masing-masing, liburan kali ini ditutup dengan kemenangan Anthony Ginting dalam ajang BWF Tour di kandang sendiri setelah beberapa tahun terakhir puasa gelar tunggal putra di Istora. Judul post kali ini juga berawal dari kemenangan Anthony di Semifinal kemarin, serasa kembali ke era(sok tua) saya masih berkecimpung(hmm..) di olahraga tepok bulu. Semifinal, karena saat itu Anthony mengalahkan the great wall, Chen Long. Sesaat diri berbisik dalam hati, “Terimakasih, karena telah mewakilkan kami semua yang pernah bermimpi bisa menjadi juara di Istora”. Lalu saya bertanya, “kapan terakhir kali Olahraga?”. Semenjak tidak latihan rutin, frekuensi  olahraga jadi berkurang drastis. Untuk kesekian kalinya saya merencanakan untuk bisa Olahraga rutin tiap pekan, Jogging, seperti yang sering saya lakukan dahulu.
     Sesampainya saya di Semarang, hampir sepekan lalu saya Jogging di stadion Undip. Lima putaran tepat, saya memutuskan untuk berjalan untuk pendinginan. Kali ini berbeda, degup jantung semakin kencang, saya langsung mempercepat langkah berjalan supaya bisa bertahap menenangkan degupnya, dan Alhamdulillah efektif. Saat itu saya langsung teringat beberapa perkataan orang-orang disekitar saya “ya meskipun udah ga latihan rutin, olahraganya tetep jalan aja.”, “Tetep lakuin aja, frekuensinya sedikit kurangin. Sayang kalo sampe ilang total.”, ya selama ini saya merasa penurunan fisik yang drastis saat bermain bulutangkis, benar-benar lemah. Dasar payah, dasar lemah. Padahal mukmin yang kuat lebih dicintai Allah,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ ، اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَـيْءٌ فَـلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِـّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَـذَا ، وَلَـكِنْ قُلْ: قَـدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَـفْـتَـحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , beliau berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu, tetapi katakanlah, Ini telah ditakdirkan Allâh, dan Allâh berbuat apa saja yang Dia kehendaki, karena ucapan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan syaitan[1]
      Lalu apa pernyataannya? Sebenarnya ini hanya pernyataan dari orang-orang secara umum saja, bukan dari seorang ilmuwan.
       “Disaat kamu telah mendapatkan sesuatu, lalu kamu tidak bisa pertahankan itu, maka meraihnya kembali jauh lebih sulit daripada meraihnya pertama kali.”
       Sebenarnya fisik saya dalam cerita diatas itu mungkin sudah termasuk parah, sebelumnya saya memang sudah merasa penurunan fisik ini harus ditindak lanjuti. Namun, ya meraihnya kembali memang susah. Banyak godaan ini itu. Mungkin ini masalah pribadi aja ya.
     Bukan hanya fisik, ini berlaku untuk hal apapun menurut saya, kecuali atas izin Allah ta’ala. Contoh lainnya adalah menghafal Al-Qur’an. Pada kajian 20 Januari 2018 kemarin, di Masjid Hijau Nurul Iman Cilangkap kedatangan tamu spesial, Syaikh Harits Al-Arjaliy (Meskipun bagi saya setiap malam ahad disana adalah hal yang spesial). Beliau masih muda, sekitar 18 tahun usianya, dan  telah memegang sanad dari Ayahnya sendiri sampai ke Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dalam kesempatan ini beliau memaparkan poin-poin yang akan membantu dalam menghafal Al-Qur’an. Di poin ke 9, “Setelah hafal, maka Murajaah(mengulang-ulang hafalan)”. "Hafalan gampang hilang, karena maksiat, kalo hanya diam(tanpa murajaah) maka akan merasa belum pernah menghafalkan ayat itu sama sekali”. “Memutqin ayat yang di hafal (menguatkan hafalan), kemudian kamu lupa ayat tesebut, mau mengembalikan hafalan tersebut, itu lebih sulit”. Ya memang begitu kenyataannya, mungkin banyak juga yang telah merasakannya. Kehidupan ini selalu menuntut untuk istiqamah. Rutin. Terus menerus. meski sedikit.

      Pesan di akhir pertemuan malam itu, Umur muda adalah waktu emas untuk menghafal Al-Qur’an. Tolong umur-umur muda ini dimanfaatkan sebaik-baiknya. Sebagaimana pepatah mahsyur yang memiliki arti sangat dalam saat direnungkan, 

Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu.

       Semoga Allah Ta’ala selalu menjaga ke-istiqamah-an kita dalam ketaatan kepadanya,
       Wallahu a’lam.

Semarang, 6 Februari 2018, 17.39



[1]Hadits ini shahîh. Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2664); Ahmad (II/366, 370); Ibnu Mâjah (no. 79, 4168); an-Nasâ-i dalam Amalul Yaum wal Lailah (no. 626, 627); at-Thahawi dalam Syarh Musykilil Aatsâr (no. 259, 260, 262); Ibnu Abi Ashim dalam Kitab as-Sunnah (no. 356).
Dishahihkan oleh Syaikh al-Bani rahimahullah dalam Hidâyatur Ruwât ila Takhrîji Ahâdîtsil Mashâbîh wal Misykât (no. 5228).
 Sumber: https://almanhaj.or.id/3841-mukmin-yang-kuat-lebih-baik-dan-lebih-dicintai-oleh-allah-subhanahu-wa-taala.html

100 %



Foto Liburan Semester Lalu.

  Disaat pertanyaan datang, “Bagaimana presentase membagi antara waktu kuliah dan berorganisasi(non-akademis)?”, dia menjawab, “Saat orang lain berpikir bahwa mereka membagi 50% untuk kuliah dan 50% untuk berorganisasi, saya tidak seperti itu. bagi saya, saya harus 100% saat menjalankan hal-hal tersebut.”

     Mungkin tidak sama persis, namun intinya seperti itu yang diucapkan oleh kang Ujang Purnama dalam salah satu wawancara yang  sekarang saya coba cari sumbernya tapi tidak ketemu. Pertama kali aku tahu namanya, tatkala aku baru tahu apa itu Ganesha Prize. Kang Ujang adalah penerima gelar Ganesha Prize  2015, bisa dibilang itu adalah penghargaan bergengsi yang ada di ITB.

     Sangat termotivasi, saat aku membaca wawancara tersebut tahun lalu. Namun, sekarang aku sadar bahwa menerapkannya jauh lebih butuh ekstra usaha. Tak terasa, sunnguh, semester tiga telah usai. Sambil mengisi waktu menunggu waktu keberangkatan kereta besok siang, ya aku tulis ini. Satu hal kesimpulan dari semester tiga yaitu grafik menurun. Sistem 100% belum bisa diterapkan oleh diriku. Namun, banyak hal yang bisa dipelajari di semester ini. Tugas lebih banyak, laporan praktikum lebih banyak, baru mengenal organisasi, memimpin sebuah kepanitiaan, membimbing mahasiswa baru,  project dari kating, sampai  jatuh cinta(?), ada di semester tiga. Aku masih berada di gerbang. Welcome to Geodesy.


Selamat liburan!

Beberapa Ratus Meter dari Undip



Salam dari Mawar.
  
    Gerimis manja menyelimuti sore ini, sejuknya udara semakin mendukung tubuh ini untuk segera telentang dikamar kos tercinta. Ditambah lagi tenaga telah terkuras oleh kegiatan hari ini yang entah kenapa terasa sangat melelahkan. Aku membuka pintu kamar kosku dan berharap bisa langsung tidur nyenyak, namun ada satu hal yang masih terpikirkan oleh diri ini. “Aduh, ada rihlah rohis jurusan ya”, ternyata masih ada satu agenda lagi yang mengharuskan diriku tidak bisa tidur di kos malam ini. Acara yang mana diadakan di Camp Mawar, Gunung Ungaran , ini sempat membuatku putus semangat untuk bisa menghadirinya, “Yah, langsung tidur aja kayanya ini nanti habis Isya. Toh ada alasan juga karena capek seharian gini belum istirahat”. Tak lama setelah aku mandi, Adzan maghrib berkumandang. Panggilan yang sangat penting dihadiri lebih dari apapun.

    Aku bersiap ke masjid, dan dengan tenaga yang tersisa aku memenuhi panggilan Allah tersebut. Setibanya di masjid dan sampai selesai shalat, aku melihat salah satu temanku yang juga seharusnya ikut ke agenda rihlah, Wahyudi. Wahyudi terlihat telah siap untuk berangkat, terlihat dari daypack yang ia bawa.

“yud, mau berangkat rihlah?” sapaku.

“iya der, mau bareng?” balasnya.

    Kenapa harus bertemu dengan orang ini disaat seperti ini, mau tak mau aku harus menerima tawarannya untuk berangkat bersama.  Si panjul emang ye.

“oke, aku balik kos sebentar siap-siap ya”.

    Setelah siap, aku dan Wahyudi langsung menuju salah satu swalayan tempat meeting point dengan teman lainnya. Setelah kami berkumpul, yang kami sadari adalah sekarang telah memasuki waktu Shalat Isya. Muncul pertanyaan yang mungkin sudah bisa ditebak, “solat dimana nih?”. Pertanyaan tersebut memancingku untuk menjawab, “di Ngesrep aja, deket kosku yang dulu”. jawabanku tersebut barangkali terlihat tidak berdasar, namun dari lubuk hati yang paling dalam ada maksud terselubung. Aku rindu tempat itu. Kami berempat berangkat, dan sesaat ingin sampai masjid tujuan, aku mendengar suara yang tak asing bagi telingaku.

“Nah ini yud, asli ya! Kangen banget aku sama suara adzan bapaknya ini”, Refleks mulutku berkata demikian setelah mendengar adzan yang kurindukan.

    Bukan hanya suaranya yang aku rindukan dari tempat ini, tapi segalanya. Padahal baru hampir satu semester aku pindah kos ke dekat kampus. Singkatnya, setelah wudhu aku menjadi orang kedua yang masuk ke masjid tersebut di waktu isya ini setelah bapak yang mengumandangkan adzan tersebut. Kubuka pintu Masjid Al-Kautsar Ngesrep ini, yang mana langsung membuat hidungku mencium wangi khas masjid yang belum berubah sama sekali. Aroma memanggil kenangan.

“Assalamu’alaikum pak”, salam pertamaku mengawali pembicaraan kami setelah beliau mematikan pengeras suara yang digunakannya untuk adzan barusan.

“Wa’alaikumsalam, monggo monggo”, jawabnya yang masih belum mengenali wajahku.

“Masih ingat saya pak?”, tanyaku dengan nada sedikit sok asik.

“Siapa ya mas?”, jawabnya dengan pertanyaan balik kepadaku.

“Ini Dery pak”, jawabku dengan harapan bapak ini masih ingat denganku.

“Oh, Dery. Lagi ada apa kesini?”, jawabnya yang masih dibubuhi pertanyaan.

“Ini lagi main aja pak, mau ke Ungaran ada acara dari kampus. Sekalian mampir”, Jawabku yang masih ragu apakah bapak ini masih benar-benar mengingatku.

“Oh ada acara apa? Berkaitan dengan geodesi?”, jawabannya yang satu ini meyakinkanku bahwa beliau masih ingat denganku.

“enggak pak ini cuma acara main aja pak”

“Oh ta kira ada acara apa gitu mas”, jawaban yang secara tak langsung mengakhiri pembicaraan kami sebelum kita sama-sama shalat sunnah.
Mereka sadar kamera, Ini Masjid Al Kautsar.


    Sekilas tentang beliau yang mana selalu lebih sering mendahuluiku untuk datang ke masjid selama aku masih ngekos di Ngesrep. Beliau juga pernah cerita kalau ternyata beliau adalah alumni Teknik Sipil Undip  tahun 1978, kalau tidak salah ya. Bukan hanya beliau, melainkan juga beberapa bapak sepuh tetangga beliau juga merupaka alumni Teknik Sipil Undip, termasuk salah satu imam tetap masjid ini, Pak Munawir. Waktu awal aku masih bersama ayahku disini, ayahku sering ngobrol dengan Pak Munawir. Sampai pada pertanyaan yang diajukan oleh ayahku waktuitu kepadaku,

 “Ri, menurut kamu itu bapak yang jadi Imam umurnya berapa?”, tanya ayahku dalam suatu obrolan yang aku sudah lupa kapan waktu tepatnya.

“berapa ya, ….,” aku lupa berapa jawabanku saat itu.

“Bapak itu umurnya 78 ri, tapi hafalannya masih kuat ya”, jawab ayahku. 

    Terdapat keraguan berapa umur Pak Munawir dalam tulisanku ini, yang aku ingat antara 76 atau 78 umur beliau saat itu. yang mana sekaligus membuatku yang di cap sebagai pemuda agen perubahan ini sedikit malu.

    Berbicara soal, tempat, wangi, dan suasana malam itu, yang mana tanpa sadar ternyata memancing diriku untuk mengakui bahwa “betapa rindunya aku dengan suasana disini”. Rindu pun memicu kekhusyukan dalam shalat. Membangkitkan jiwa yang telah lama tertunduk dengan agenda rapat dan program kerja. beginilah takdir, boleh jadi kita benci untuk melakukan sesuatu tapi ternyata apa yang dilakukan adalah salah satu obat mujarab penghilang kelelahan. Masih kuingat beberapa menit lalu kalau aku tidak berangkat dan lebih memilih tidur, mungkin tidak lahir tulisan ini. ☺


    Singkat cerita aku menjalankan agenda dengan penuh suka cita dan kenyang senang, serta selamat kembali sampai kosku lagi. Kuliah lagi. Rapat lagi. Proker lagi. Jangan lupa ngaji. Semangat!
Bonus, Foto mas-mas masak mie.